Minggu, 04 Desember 2011

Pelatihan awal merpati balap sprint: Pola terbang



17/12/2009
Melatih merpati balap sprint harus dengan cara yang benar (sumber foto sripoku.com)
Menyambung tulisan mengenai mencetak burung merpati balap sprint yang saya ambilkan dari Trubus, sekarang  saya akan menuliskan lanjutannya, yakni melatih merpati balap sprint. Hal ini juga sangat penting  karena meski kita punya merpati anakan jawara, kalau dia tidak dibesarkan dalam pelatihan yang baik dan benar, maka mustahil bakal menjadi jawara.
PELATIHAN:
Sehari setelah teloran kedua atau sebulan kemudian (baca tulisan di sini), merpati balap sudah bisa berlatih di halaman atau lapangan. Namun bila pasangan betina belum bertelor, disarankan tidak langsung mencoba si jantan berlatih. Karena keduanya pasti belum ngeket.  Jika dipaksa berlatih, si jantan bakal kabur.
Umumnya waktu latihan dipilih sesudah merpati balap dijemur, sekitar pukul 11 siang. Latihan itu dimulai dengan menyiapkan 2 kandang kecil. Msing-masing kandang dipisahkan 5-10 meter. Mauskkan kedua merpati balap ke dalam kandang, Si jantan kemudian dibiarkan lepas sesaat untuk beradaptasi dan kemudian menghampiri betina.
Mintalah salah satu perawat untuk kembali membawa si jantan ke kandang lagi. Si jantan dapat digoda kembali. Caranya kelepakan betina sampai sayapnya mengembang penuh. Jika giring, si jantan akan terbang kembali mendatangi betina. Latihan ini dilakukan 1-2 hari dengan frekuensi 4-5 kali.
Bila si jantan semakin giring, biasanya setelah teloran ke-3, jarak terbang ditambah sekitar 20-50 meter. Beberapa penangkar memilih langsung 20-50 meter. Hal ini dapat dilakukan asal si burung cerdas. Latihan ini diberikan selama 3-4 hari dengan frekuensi antara 2-5 kali.
TERBANG LURUS
Tujuan terbang pendek jarak 5-1- meter atau 20-50 meter agar si burung mampu terbang lurus. Bila tidak, si jantan akan terbang ke atas, berputar-putar dulu sebelum hingga di betina.
Cara lain agar peluang burung terbang lurus semakin besar, sang joki perlahan-lahan mundur teratur sampai jarak tertentu. Contoh jarak awal pelepas dan joki 10 meter, saat si jantan mulai dilepas, sang joki sudah berjarak sekitar 15 meter.
Pada latihan itu posisi si joki menangkap burung tidak boleh sembarangan. Ia harus jongkok supaya burung terbiasa terbang lurus dan rendah sekitar 2-3 meter dari tanah. Usahakan merpati ditangkap di tanah bukan hinggap di tangan. Jika sejak awal dilatih ditangkap di tangan dengan posisi si joki berdiri, si merpati akan terbang lebih tinggi lagi. Dampaknya di lomba sang joki akan menangkap merpati dengan cara menjambret atau populer dengan sebutan barongsai.
Namun seringkali kesalahan fatal dilakukan oleh joki. Misalnya tangan kiri yang akan menangkap posisinya di atas betina. Akibatnya pandangan si jantan akan terhalang sehingga mengurangi kecepatan terbang. ia terlihat ragu-ragu untuk mendarat. Lebih baik posisi tangan kiri ada di belakang tangan kanan.
POLA TERBANG
Jika merpati mampu terbang lurus, jarak latihan ditambah lagi sampai 200-400 meter. Saat itu karakter burung sudah terlihat. Hal itu tampak saat bertemu lawan tanding. Ia bisa memukul dari atas atau zigzag mengganggu lawan. Ada pula yang cenderung mengusir lawan dengan cara  mengepak sayap. Kebiasaan itu memang sifat bawaan yang tidak bisa dilatih.
Setiap merpati balap memang mempunyai pola terbang yang berbeda. Pola itu berpengaruh pada kecepatan terbang si merpati. Ada 4 pola umum yang dimiliki merpati balap. Namun pemakaian pola ini tergantung sifat bawaan si merpati.
1. Terbang datar lurus ke depan
Pola ini paling disukai joki. Banyak merpati balap handal memiliki cara terbang ini. Kekuatan otot sayap merupakan kuncinya. Ia harus kuat lantaran tridak memanfaatkan gratvitasi bumi sebagai bantuan. Jika otot tidak prima, merpati balap akan kehabisan tenaga dan napas.
2. Terbang menurun kemudian mendatar lurus ke depan
Pola ini menghasilkan kecepatan yang lebih rendah karena perlu waktu untuk menukik sesaat. Cara ini baru efektif dipakai pada lintasan pendek yang mengandalkan keseimbangan badan, reflek sayap dan ekor.


3. Terbang zigzag.
Pola ini jarang dipakai oleh merpati balap lantaran butuh keseimbangan dan refleks tinggi. Cara terbang ini memanfaatkan sudut zigzag untuk memperkecil tekanan angin ketika terbang melawan angin.
4. Terbang melambung dan meluncur ke bawah
Pola ini serupa cara elang memburu mangsa. Tenaga lebih sedikit dikeluarkan. Pasalnya, luncuran awal terbantu oleh gravitasi bumi. Pakem ini mampu mengimbangi terbang datar lurus pada lintasan panjang. Namun tidak efisien pada lintasan pendek lantara ada waktu terbuang ketika melambung.
MAKSIMAL
Setelah 3 bulan atau 5-6 kali telor, jarak terbang ditambah sampai batas maksimal 1.200 m (jarak maksimal lomba). Frekuensi latihan 5-6 kali. Namuin ada joki yang memberi porsi latihan jarak 1.600 m seperti di Bandung. Tujuannya melatih fisik burung lebih kuat. Tetapi kebiasaan itu menyebabkan si burung memiliki jarak ngejos berbeda.
Jika 3-4 teloran si burung dipaksa berlatih jarak 1.200 m, ia akan kehabisan tenaga lantaran belum memiliki tulangan yang keras. Indikasinya ia terbang tinggi dulu mencari angin untuk membantu terbang. Agar merpati balap tidak rusak, ia perlu memupukan tenaga. Caranya latih terbang jarak 700 m dengan frekuensi 3 kali saja.
Beberapa penangkar justru memilih terbang 1.200 m setelah 6-10 teloran. Alasannya bila kurang dari 6 teloran, si merpati baru memiliki tenaga 50%. Sesudah 6 teloran tenaga mencapai 70 % – 80 %. Keadaan ini berlangsung 2 bulan sebelum memasuki masa puncak 100%. Saat itu waktu paling tepat untuk mengikuti lomba karena merpati yang juara selalu berada dalam kondisi itu.
Sayangnya, keadaan itu hanya berlangsung 2 bulan saja. Pasalnya setelah lewat masa itu, bulu primer berontokan. Ia tersisa 6-7 helai. Saat inilah merpati wajib istirahat selama 2-3 bulan untuk mengasuh anak. Tetapi ada penangkar yang tidak mau si merpati meloloh anak lantaran mempengaruhi isnting balap.
Saat si jantan meloloh anak, bulu primer tersisa 3 helai. Bulu itu akan rontok bersama bulu lainnya alias mabung. Setelah masa iyu, si jantan dapat dijodohkan lagi. Bentuk latihan yang diberikan pun diulang seperti pada awal pembentukan calon merpati balap. Namun prosesnya lebih cepat. Lima bulan sudah dapat ikut lomba lagi.
Dalam sebulan, sebetulnya merpati balap turun berlatih 2 minggu sekali. Perhitungannya, setiap tanggal 1 ia dijodohkan, kemudian tanggal 8 akan mengerami telur. Di antara tanggal 1-8, merpati balap dapat berlatih atau berlomba. Tanggal 8-14 merpati balap kembali mengeram.
Waktu mengeram biasanya dimanfaatkan merpati balap untuk istirahat dan mengembalikan kekuatan. Memandikan juga diiperlukan untuk menghilangkan kotoran di tubuh merpati. Namun ada sementara peternak beranggapan bila terlalu sering dimandikan maka merpati akan menjadi buruk karena lapisan lilin pelindung bulu pada sayap tergerus. Dengan demikian bulu akan cepat rusak.

Hobi Burung Merpati

Januari 14, 2010

Menyiapkan merpati balap sprint untuk lomba: Pakan dan perawatan fisik

Filed under: Wacana — masterjogjanews @ 5:31 pm
Tags: burung merpati, pakan merpati, perawatan merpati
Lomba merupakan ajang akhir pembuktian dari latihan. Setelah Anda memahami tulisan megenai latihan merpati balap ini (lihat tulisan sebelumnya: Panduan Praktis Cetak Merpati Balap Sprint dan Pelatihan Awal Merpati Balap Sprint, maka Anda perlu memahami penyiapan lomba merpati balap. Tulisan ini merupakan kelanjutan dari kedua tulisan tersebut yang diambil dari sisipan Majalah Trubus.
Wadah lomba burung merpati balap sekarang ada di dalam koordinasi Persatuan Penggemar Merpati Balap Sprint Indonesia (PPMBSI). Setiap lomba yang diadakan terbagi dalam 5 kelas, yakni lomba 500 m, lomba galatama bintang dan galatama seri A, B, C; lomba utama, lomba antar tim atau kandang dan lomba piyik.
Untuk lomba, PPMBSI mensyaratkan peserta menjadi anggota. Sementara syarat lomba lain yang juga harus diperhatikan antara lain; pada lomba 500 m dan lomba piyik, jarak lepas minimum 500 m dan maksimal 600 m. Khusus untuk piyik, ia harus memakai ring; usia merpati saat bertanding tidak lebih dari 10 bulan yang dibuktikan dengan menyerahkan sertifikat dari peternak. Sedangkan pada lomba galatama dan uatama, jarak lepas minimum 1000 m dan maksimal 1.200 m. Jumlah peserta setiap seri 8-16 ekor.
Sehari sebelum lomba pada Kamis, joki beserta burung melakukan pengenalan lapangan. Latihan dilakukan pada jarak 200 – 300 meter sebanyak 5-6 kali atau 500 m sekitar 4-5 kali. Saat ia bertemu dengan calon musuh biasanya setelah pulang akan lebih bernafsu untuk kawin. Lantaran sering maka insting akan terlatih, yakni sepulang latihan langsung kawin. Ini pertanda bagus karena kadar ngeketnya bertambah. Apalagi jika si merpati sanggup kawin 4-5 kali.
Pagi hari sebelum lomba, merpati harus dijemur. Ia juga diberi sedikit pakan untuk menambah stamina. Saat jeda setelah bertanding, merpati pun perlu disegarkan kembali. Caranya, beri semprotan air di sekitar kaki dan minum seperlunya. Perlakuan itu diulang selama lomba berlangsung.


PERAN JOKI
Setiap merpati balap memiliki joki tetap. Joki bertugas untuk menangkan jantan dan memegang betina (ngeplak atyau ngeplek). Ia juga dibantu seorang asisten yang berfungsi sebagai penggabur (pembawa jantan). Sangat dianjurkan joki memakai baju dengan warna tetap selama latihan dan lomba. Tujuannya supaya merpati sudah mengenalnya dari jarak jauh.
Namun seringkali saat lomba, kontestan yang beradu memakai baju berwarna sama. Oleh karean itu joki diwajibkan membiasakan diri selalu berteriak memanggil nama sang burung. Teriakan itu menandakan keberadaan joki. Secara psikologis juga sebagai pelampiasan emosi untuk melepas ketegangan.
Agar hubungan joki dan merpati lebih erat, biasakan setelah berlatih atau berlomba diakhiri dengan pengelusan di sekujur tubuh. Pengelusan dapat berlanjut dengan pengurutan seperlunya di bagian pangkal sayap untuk menghilangkan rasa lelah.
Saat mengikuti lomba pun joki harus mengetahui tata tertib lomba agar tidak merugi sendiri. Contoh, joki diperkenankan menangkap jagoannya saat terbang tetapi ia tidak diperbolehkan menangkap ketika merpati hinggap di badan atau kepala. Bila dilanggar akan dinyatakan kalah.
PAKAN DAN PERAWATAN MERPATI BALAP SPRINT
Pakan merupakan sumber energi bagi merpati balap. Asupan pakan yang sesuai memperkuat daya tahan tubuh seperti pada olahragawan. Secara alami anggota keluarga columbidae itu sangat menyukai biji-bijian seperti jagung.
Jagung yang diberikan tidak sembarang. Ia bukan jagung pipilan biasa, tetapi jagung madura. Sepintas jagung ini mirip dengan jagung biasa tetapi ukurannya lebih kecil sesuai dengan ukuran mulut merpati. Setidaknya merpati dewasa perlu pakan 37 gram per ekor, remaja 25 gram dan anakan 5-10 gram per ekor.
Pakan diberikan pada pagi dan sore seusai berlatih. Jagung yang kotor lantarana diberaki harus diganti karena menjadi sumber penyakit burung merpati .
Agar tetap fit, asupan vitamin dan mineral terkadang perlu diberikan. Terutama setelah berlatih atau berlomba ketika nafsu makan di merpati berkurang. Bila vitamin berupa tablet bisa langsung dilolohkan ke paruh. Namun bila sediaannya serbuk, campurkan bersama air minum.
Para penangkar juga sering menggunakan bahan tradisional untuk menjaga vitalitas merpati balap. Contoh, kunyit sebagai antibiotik, penghilang lelah dan menambah nafsu makan. Rimpang kunyit biasanya dipotong kecil kemudian disangrai (sangan) dan dilolohkan. Tetapi agar khasiatnya lebih bagus, campurkan dengan telur dan madu.
Sayang, perlakuan itu lebih banyak dinikmati pejantan. Betina kelepekan jarang diperhatikan padahal ia juga butuh pakan bagus untuk menjaga stamina. Bila betina tidak diberi perlakuan serupa, kesehatnnya akan terganggu dan nafsu kawinnya menurun. Lama kelamaan kesehatan betina drop.
Kebanyakan penangkar justru menggonta-ganti betina. Hal ini tidak dianjurkan lantaran si jantan akan merasa kehilangan pasangan sebelumnya.
Referensi lain merpati
(Referensi ini saya ambilkan dari tulisan Suryana, Staf Peneliti BPTP Kalimantan Selatan dan yang ketika menulis di Majalah Poultry Online masih berstatus Mahasiswa Program Doktor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor)
Tiga tipe merpati
Dari sekian jumlah spesies yang ada, merpati dibedakan atas tiga tipe, yaitu bangsa merpati yang diambil keindahannya untuk pameran (fancy breed), bangsa yang dinilai ketangkasannya (performing breed), dan bangsa yang diambil kegunaan sebagai penghasil daging (utility breed).
Tipe performing breed seperti Homer memiliki kecepatan dan ketahanan terbang, Birmingham Roller memiliki kemampuan terbang sambil berputar-putar (rolling), Panlor Tumbler memiliki kemampuan jungkir balik di atas lantai dan berakrobat atau manuver di udara.
Merpati termasuk ke dalam Kingdom Animalia, kelas unggas (aves), dan hewan bertulang belakang (vetebrata), dan spesies Columbia livia yang berdarah panas dan suhu tubuhnya ±41 derajat C atau lebih tinggi dari manusia dan mamalia lainnya. Karakteristik yang dimilikinya antara lain dapat hidup di seluruh wilayah dunia kecuali di Antartika, dan mempunyai sifat damai serta hampir tidak ada peck order dan kanibalisme, walaupun ditempatkan dalam satu kandang.
Merpati mudah menyesuaikan diri (adaptif) dengan lingkungan, memilih pasangan sendiri, bersifat monogami, dan mempunyai sifat sense of location dalam waktu yang lama dan dalam jarak jauh.
Bobot hidup dewasa merpati penghasil daging (Blakely dan Bade, 1998) dapat dikelompokkan dalam 3 kategori, yaitu :
1. Berat (700-900 g), seperti : American Swiss Mondane, White King, Silver King, Auto Sexing Texas Pionner, Auto Sexing King 2. Medium (600-700 g), seperti : Red atau White Chernau, American Giant Homer. 3. Ringan (400-700g) : seperti : Hungarian (biru, putih atau merah, Squabing Homer (Homer pekerja)
Salah satu ciri yang membedakan antara merpati dengan unggas lainnya adalah merpati menghasilkan crop milk atau susu tembolok (pigeon milk), yaitu cairan berwarna krem menyerupai susu yang dikeluarkan dari tembolok induk jantan maupun betina. Crop pigeon milk yang diproduksi oleh tembolok induk menyerupai keju dan cair, diproduksi sebelum menetas.
Cairan ini diberikan induk kepada anak-anaknya (squabs) dengan cara meloloh dan memompa ke dalam mulut anaknya. Kandungan zat nutrien susu tembolok (pigeon milk) pada merpati (Suprapti, 2003), antara lain : Air (64,30 – 76,75%), Protein (13,17 – 18,80%), Karbohidrat (13,00 – 14,50%), Lemak (7,95 – 12,70%), Abu (1,52 – 1,60%).
Merpati jantan mencapai dewasa kelamin pada umur 4 bulan dan betina umur 6 bulan. Burung merpati bertelur 1-3 butir setiap periode bertelur (clutch), dengan warna telur putih dan berbentuk ellips, tetapi ujungnya meruncing pada bagian yang berlawanan dengan rongga udara, dengan ukuran telur bervariasi tergantung jenis merpatinya.
Di alam bebas, merpati hanya bertelur 2-3 kali/tahun. Merpati yang dipelihara untuk tujuan komersial, umumnya bertelur rata-rata setiap 26-40 hari tergantung pada musim dan faktor lainnya. Pengeraman telurnya dilakukan oleh kedua pasangannya, baik jantan maupun betina, tetapi yang lebih banyak melakukan pengeraman adalah sang betina, sementara sang jantan menggantikannya pada pagi sampai siang hari saja. Levi (1945) menggolongkan merpati menurut umurnya, yaitu:
1. Squabs, anakan merpati dari umur satu sampai tiga puluh hari. Squabs atau piyik adalah merpati muda yang siap dipasarkan pada umur sekitar 28-30 hari, dan pada umur tersebut piyik mendapatkan makanan yang dihasilkan dari tembolok induknya (susu temblok), baik jantan maupun betina. Makanan yang berasal dari tembolok induk mempunyai kandungan protein sampai 35%, dua kali lipat atau lebih tinggi dibanding kandungan protein pada pakan unggas yang lainnya. 2. Squaker, merpati umur dari 30 hari sampai 6-7 bulan. 3. Youngster merpati yang sudah berumur di atas 7 bulan sampai siap kawin. Jantan atau betina muda kawin pada tahun pertama produksi. 4. Yearling hen yaitu merpati yang sudah berproduksi pada tahun kedua, baik jantan dan betina sampai umur di culling.
Pada pemeliharaan burung merpati identifikasi jenis kelamin (sexing) dapat dilakukan setelah anak merpati berumur 23-24 hari, dengan melihat bentuk kloakanya. Selain itu, identifikasi jenis kelamin dapat juga dilihat melalui permukaan kepala, tulang kaki dan leher. Pada merpati jantan permukaan kepalanya kasar dan terlihat lebih maskulin, tulang kakinya kuat dan lehernnya besar, sedangkan pada burung merpati betina permukaan kepalanya rata dan terlihat halus, tulang kakinya lebih ramping dan lehernya lebih kecil (Levi, 1945). Komposisi kimia daging squabs menurut Bokhari (2001), yaitu : Air (72,80%), Energi (142 kal), Protein (17,50%), Lemak (7,50%), Serat (0%), Abu (1,20%), Fe (2,53 mg), Lisina (1,91g).
Pakan merpati Kebutuhan nutrien untuk merpati hampir sama dengan jenis unggas lainnya. Satu pengecualian utama adalah burung merpati dewasa membutuhkan grit untuk membantu menggiling dan mencerna biji-bijian yang dikonsumsinya. Pakan merpati terdiri atas unsur-unsur ransum campuran antara biji-bijian, mineral, grit dan air minum atau dalam bentuk pellet. Formula grit yang baik untuk merpati terdiri atas 40% kulit kerang, yang digiling kasar, 35% kapur atau grit granit, 10% arang kayu keras, 5% tulang yang digiling, 5% kapur dan 4% garam yodium.
Komposisi pakan yang terdiri atas biji-bijian disarankan adalah 35% jagung, 22,7% kacang kapri, 19,8% gandum dan 18% milo dengan kadar protein minimum 14%. Pemberian pakan pada merpati cukup mudah karena merpati menyukai jagung, kedelai, kacang tanah dan gandum. Komposisi pakan yang baik untuk merpati ini terdiri atas protein kasar 13,5%, karbohidrat 65,0%, serat kasar 3,5% dan lemak 3,0%. Selain itu, merpati juga membutuhkan mineral dan vitamin.
Menurut Drevjany (2001) dalam Suprapti (2003), pada musim panas merpati membutuhkan jagung 25% dan pellet 75%, sedangkan musim dingin jagung dapat diberikan sebanyak 50% dan pellet 50%. Pakan merpati sebaiknya mengandung protein kasar 16% dari total rasio pakan. Merpati mengonsumsi biji-bijian sekitar 100-150g ekor/pasang, dengan rataan konsumsi sebesar 130,25g/hari/pasang. Untuk jenis merpati Hing, sementara jenis Homer rataan konsumsi pakannya sekitar 111,64/g/hari/pasang.
Usaha Konservasi Dan Pelestarian Banyak spesies dari merpati mempunyai nilai ekonomis dan menguntungkan bagi manusia. Beberapa spesies jumlahnya sudah menurun dan mengalami beberapa ancaman dari kepunahan. Sekitar 10 spesies sudah mengalami kepunahan sejak tahun 1600, dua di antaranya adalah merpati Dodo dan merpati penyampai pesan (messenger pigeon/dove).
Jumlah populasi merpati terdahulu sangat sulit diestimasi, tetapi salah seorang ahli ornitologi bernama Alexander Wilson memperkirakan bahwa salah satu kelompok merpati yang dia observasi lebih dari 20.000 ribu ekor, sebelum dia meninggal pada tahun 1914. Beberapa spesies lainnya mengalami kepunahan dan hilang seperti di hutan dan habitat lainnya. Sekitar 59 spesies merpati sekarang terancam dari kepunahan, dan sekitar 19% dari semua spesies.
Beberapa upaya teknik konservasi yang dilakukan untuk mencegah ancaman dari kepunahan, antara lain diperlukan penegakan hukum yang tegas dan upaya regulasi untuk mengontrol kegiatan pemburuan, dan untuk melindungi wilayah dari penurunan habitat yang lebih jauh lagi. Selain itu perlu dilakukan re – introduksi populasi secara ex- situ dan trans – lokasi masing-masing individu ke habitatnya yang sesuai sehingga populasinya dapat meningkat dan kelestariannya terjaga dengan baik.


Panduan praktis cetak merpati balap

Filed under: Wacana — masterjogjanews @ 5:27 pm
Tags: balap sprint, kolongan, merpati tinggian, panduan cetak merpati balap
Besutan Sri Rama bagaikan anak panah melesat dari busur. Berduel dengan Elang M saat perang bintang, ia begitu perkasa. Menjelang 100 m garis finish, tiba-tiba Sri Rama ngejos (sprint- red) meninggalkan Elang M. Tangan Udin, joki Sri Rama, cukup sigap menangkap jagoannya di atas patik. Burung milik Trisna Wijaya itu jatuh ke pelukan joki asal Madura dan meraih juara.
Demikian pengantar buku kecil sisipan Majalah Trubus yang membahas mengenai Panduan Praktis Cetak Merpati Balap Sprint. Berikut ini saya turunkan tulisan tersebut meski di sana-sini saya edit untuk penyesuaian.
Kehandalan Sri Rama patut diacungi jempol. Ia kerap menjadi juara di berbagai lomba merpati balap. Wajar jika burung merpati itu dihargai ratusan juta rupiah. Untuk mendapat burung sekelas Sri Rama memang tidak mudah. Serangkaian syarat harus dipenuhi para calon merpati balap.
Darah tetua pun menentukan prestasi. “Merpati balap juara biasanya menurunkan anakan juara,” ujar Herman Tanubrata pemilik Masa Kini Bird Farm di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Contoh Rencong atau Batavia. Kedua merpati balap yang merajai lomba pada 1995-1998 itu hingga kini keturunannya diincar banyak penangkar merpati balap sprint.
Meski demikian, calon merpati balap dari induk juara pun, jika tidak pernah dilatih mustahil akan menjadi jawara. “Merpati itu seperti olahragawan, kalau tidak dilatih sejak dini, tidak mungkin jadi juara,” kata Trisna Wijaya, penangkar di Cikupa Tangerang.
Cara memilih bakalan merpati balap sprint
Calon indukan merpati balap sprint idealnya tidak terlalu besar. Agar lebih yakin, si calon perlu menjalani tes kelayakan. Ia perlu diraba dari kepala, mata, dada, sayap hingga ekor.
Bentuk kepala yang bagus membulat mirip kepala pesawat terbang. Saat diraba ke arah paruh terasa agak menonjol. Fungsinya mengurangi hambatan terbang karena pengaruh terpaan angin. Angin akan dibuang ke samping kepala sehingga merpati bertambah laju.
Pilih calon merpati balap berdada besar membentuk bidang segitiga. Tujuannya agar kemampuan menyimpan oksigen selama terbang tinggi. Pasalnya oksigen itu mengurangi asam laktat penyebab kelelahan otot.
Tulang pembentuk dada pun harus bulat melengkung ke arah kloaka (anus). Ketika diraba, otot di sekeliling tulang terasa halus agak lembek. Tetapi mendekati kloaka, otot sumpit (kandung kemih) keras dan lurus.
Organ gerak paling penting adalah sayap. Setiap calon merpati balap harus memiliki otot pangkal sayap kuat agar kepakan semakin cepat. Idealnya, otot pangkal sayap ketika diraba kenyal, elastis dan padat sehingga burung tak cepat lelah ketika terbang.
Bulu merupakan bagian terpenting dari sayap. Setiap burung umumnya ditutupi buku. Ia terbagi menjadi 3 bagian, yakni bulu penutup sayap, sekunder, dan primer. Tetapi pada merpati balap, justru bulu primer penentu laik tidaknya sang burung untuk berpacu.
Bulu primer berfungsi sebagai penyeimbang dan alat rem sewaktu mendarat. Ia berjumlah 10 helai. Saat dibentangkan, posisi ke-10 bulu itu harus rapat, beraturan dan serasi. Semakin ke ujung sayap, ukurannya membesar. Tulang bulu harus tebal, bulat, lentur, agak melengkung dan tidak kaku. Secara alami sehelai bulu akan rontok setiap bulan.
Dalam lomba, jarak pandang sang jantan pada betina kelepekan menentukan hasil akhir. Semakin kepakan betina terlihat, makin cepat sang jantan melakukan sprint. Oleh karena itu lingkaran pupil di mata harus bisa membesar dan mengecil untuk mengukur jarak.
Warna mata juga member indikasi kecepatan terbang. Merpati balap memiliki warna mata lebih merah. “Ia terlihat garang dan sadis. Semua merpati balap juara mempunyai warna mata itu seperti Sri Rama atau Millenium,” papar Udin, perawat di Sampoerna Bird Farm.
Penjodohan merpati balap sprint
Langkah awal melatih merpati balap adalah menjodohkan. Pasalnya merpati balap identik dengan adu napsu. Semakin bernapsu si jantan menguber pasangan betina alias ngeket atau giring, maka makin cepatlah laju terbangnya.
Pejantan dapat dijodohkan 3-4 bulan sejak lahir. Penjodohan itu dimulai dengan memasukan pejantan ke kandang utama ukuran 1,5 x 1,5 x 2 meter. Kandang itu dilengkap sebuah kandang kecil (gupon atau pagupon- Jawa) untuk istirahat. Biarkan si jantan selama sehari untuk adaptasi. Menginjak hari ke-2, beberapa betina dimasukkan bergantian selama setengah hari. Usahakan betina matang kelamin yang dipilih.
Tanda jodoh terlihat bila keduanya saling mengeluarkan bunyi untuk merayu (bekur – Jawa). Bulu si jantan akan mekar, mengkilap, dan terlihat indah . Gayung bersambut, si betina pun akan menggut-manggut tanda kepincut. Setelah jodoh, biarkan keduanya untuk kawin.
Namun kendala acap kali muncul ketika penjodohan merpati balap sprint. Si jantan tampak ogah-ogahan kawin. Masalah itu bisa diatasi dengan memilih betina berbulu serupa baby sitter pejantan. Contoh baby sitter berbulu kelabu maka betina pun harus kelabu lantaran insting si jantan akan terus mengingat perawatnya dulu. Hasilnya pun akan lebih baik.
“Daya giring si jantan lebih bagus ketimbang diberi warna lain,” kata Herman Tanubrata, Sekjen PPMBSI.
Selain warna, umur ikut andil saat menjodohkan. Idealnya, betina seumur atau lebih muda yang dipasangkan. Tujuannya agar betina dapat dipakai sebagai kelepekan lebih lama. Namun ada penangkar merpati balap lain yang suka memasangkan jantan dengan betina yang sudah kawin. Maksudnya agar si jantan cepat birahi.
Tdak semua pejantan mau begitu saja disandingkan dengan betina yang sudah kawin. Apalagi pejantan muda, pasti menolak. Tandanya dia akan mematuk dan menguber si betina.
Cara mengatasinya, pisahkan keduanya selama 1-2 minggu. Jika sudah birahi baru dijodohkan kembali. Tanda kawin terlihat bila keduanya mulai mencumbu rayu.
Merpati balap sejodoh bisa kawin 2-4 kali sehari. Seminggu setelah kawin, betina biasanya bertelor 2-3 butir selama 3 hari berturut-turut. Telur itu dicabut (dibuang) lantaran ia tidak akan dierami. JIka anakannya akan diambil, penangkar memilih mengawinkan si jantan dengan betina berdarah juara.
Antara 4 sampai 6 hari setelah teloran pertama itu, pasangan merpati biasanya terlihat ngeket atau giring. Tetapi untuk memastikan si jantan sangat ngeket, coba didekatkan betina ke pejantan lain. Jika tiba-tiba si jantan pasangan nguber atau blingsatan tanda cemburu, bebari dia sudah benar-benar ngeket atau giring.
(Bersambung ke tulisan berikutnya “Pelatihan Merpati Balap Spint”).


Tips Melatih dan Merawat Burung Merpati Balap



Masing2 orang punya caranya tersendiri. Yang bisa saya share mungkin hanya dasar2 pokoknya saja.

Latihan :
Dibagi menjadi 3 bagian.
Latihan awal (piyik), latihan intermediate, dan latih tahap akhir (mempersiapkan lomba).

Untuk latih piyik, point terpenting adalah :
- Pengenalan seragam dan geberan
- Pengenalan dan adaptasi suasana lapangan
- Latihan terbang lurus langsung start melejit menuju geberan
- Latihan mendarat/tembak dgn tepat pada geberan.
Latihan piyik dilakukan berulang2 dari jarak sangat dekat dan sedikit2 ditambah jarak sampai piyik benar2 hapal seragam, adaptasi lapangan, terbang dgn lurus dan mendarat dgn tepat. Dilakukan 2-4 giringan dgn target jarak = max. 200mtr dalam 3-4 giringan.

Usahakan jangan digandeng atau 'tersambar' burung lain. Geber dgn cara jongkok, geberan di tatak ditanah, tepat di depan joki.

Latihan intermediate :
Bila latihan piyik sudah 'lulus'. Maka dilanjutkan dgn tahap intermediate. Fokusnya adlh
- pembentukan otot,
- memantapkan jalur terbang (lurus, tidak melenceng kesamping)
- Mengasah mental dgn sesama burung muda.
Jarak lepas bisa ditambah sedikit drastis. Bisa tambah tiap 50mtr, atau 100mtr, tergantung kecerdasan burung. Harap diperhatikan jalur terbang harus lurus, tidak melenceng ke samping. bila jalur melebar kesamping, jarak lepas dikurangi utk kembali pada titik sebelumnya.

Dgn bertambah jarak, otomatis burung berlatih stamina. Ototnya akan terbentuk. Porsi latihan harus sesuai. Tidak berlebihan. Sekali2 kegandeng musuh tdk apa2. Supaya membiasakan diri dan mengasah mental.
Lama latihan = 4-5 giringan dgn target jarak s/d 1000mtr.

Latihan akhir
Fokus utamanya adalah :
- Meningkatkan staminanya.
- Mengasah mental.
- Menyempurnakan jalur terbang.

Dengan 'menggojlok' burung pada lepasan yg jauh (1000mtr), stamina akan terbentuk. Burung terbiasa utk terbang sampai 7-8X non stop.
Silakan untuk dicoba gandeng dgn burung lain utk uji coba. Gandeng dimulai dari jarak 500mtr, dan terus berlanjut sampai 1000mtr.

Dgn dicoba gandeng, maka mental burung akan terasah. Jalur terbang akan lebih sempurna. Nanti akan terasah kemampuan methil, sprint, pepet musuh, dll. Kalau semua ini sudah terlihat dgn stabil, maka burung siap dilombakan.

Lama latihan = 2 giringan.

Perawatan :
Prinsipnya adalah :
- Nutrisi dan gizi yg seimbang.
- Pemulihan kondisi tubuh setelah latihan.
- Mempersiapkan kondisi sebelum latihan.

Setelah latihan, burung harus diberikan suplement supaya kondisi badan yg pegal2 bisa hilang.
Ketika bertelur dan mengeram, harus dipastikan burung istirahat dgn cukup supaya kondisinya pulih kembali.
Setelah cabut telur, burung harus siap secara fisik. Kondisi harus terus dikontrol dan dipastikan tidak ada masalah. Giring harus bagus. Betina harus sehat, dll.

Jenis-jenis merpati yang populer

Filed under: Wacana — masterjogjanews @ 5:24 pm
Tags: homer, homer racing, jenis-jenis merpati, merpati
Berikut ini saya sajikan tulisan mengenai jenis-jenis merpati, utamanya yang populer dewasa ini.
1. Homer: Berasal dari burung liar yang dikenal dengan nama Columbian livia. Setelah dijinakkan burung tersebut dikenal sebagai Racing Homer – dapat kita sebut sebagai “merpati pos” aduan. Dari jenis Racing Homer ini kemudian muncul beberapa jenis merpati, antara lain:
Homer pameran (Exhibition Homer) yang dikembangkan sejak 1990 sebagai burung pameran.
German Beauty Homer yang dikembangkan di Jerman sejak 1907 sebagai burung pameran. Burung ini mirip dengan Racing Homer tetapi lebih ramping.
Giant Homer yang dikembangkan di Amerika Serikat untuk mendapatkan burung yang berbadan besar dan memiliki kemampuan memproduksi anak yang banyak. Burung ini ditujukan untuk keperluan konsumsi.
Racing Homer dikembangkan dewasa ini di Belgia dan Inggris. Sejak lama barung ini digunakan sebagai pengirim berita dan kini dikembangkan dengan penyilangan terhadap burung-burung yang kecepatannya tinggi karena sasaran utamanya adalah kecepatan. Dengan demikian, warna, bentuk dan besarnya menjadi nomer dua.
2. Tumbler
Oleh orang Belanda burung ini dikenal sebagai Tuimelaar. Burung ini punya keistimewaan terbang dari ketinggian tertentu akan turun ke ketinggian tertentu dengan melakukan serangkaian salto atau jungkir balik di udara. Semula burung ini merupakan burung olahraga tetapi kemudian menjadi burung untuk pameran.
Merpati-merpati jenis tumbler:
- English shortfaced tumble: merupakan burung yang kecil, padat, dengan leher jenjang mungil tetapi dengan dada yang kokoh. Dalam keadaan berdiri biasa, ujung sayapnya akan menggantung lebih rendah dari kedudukan ekor – ini merupakan ciri yang menonjol. Selain itu bagian muka dari kepalanya menonjol agak jauh ke depan daripada paruhnya yang pendek. Dengan dipelihara untuk keperluan pameran, maka kemampuannya untuk terbang tinggi dan jungkir balik pun hilang. Burung diternakkan dengan berbagai variasi warna.
- Birmingham Roller: dikembangkan di Birmingham (Inggris) sebagai burung yang memiliki keistimewaan terbang. Kemampuannya untuk jungkir balik dan berputar-putar di udara menjadi sasaran utama pemeliharanya. Burung ini mampu untuk jungkir balik (trumble), termasuk salto ke belakang dan berputar-putar (spin) dengan kecepatan tinggi sekali. Dan itu dilakukan mulai ketinggian yang cukup tinggi (burung mampu terbang tinggi) dan berakhir setealh berada pada ketinggian yang rendah. Kemampuan ini telahg menjadi acara pertandingan yang menarik bagi para penggemarnya. Tetapi Birmingham Roller juga menjadi burung yang dipamerkan bahkan cara-cara penilaiannya pun telah dibakukan.
- Flying Tipller: merupakan burung yang diekambangkan dari Flying Tumbler. Burung ini dipelihara karena kemampuannya terbang yang lama. Jenis yang baik akan mampu terbang terus-menerus selama 20 jam.
- Parlour Tumbler: juga disebut Ground Tumbler atau House Tumbler. Burung ini diternakkan karena kemampuannya lombat ke udara, melakukan salto sekali atau dua kali ke belakang, dan kedua kakinya hinggap kembali ke tempat semula.
3. Cumulet: Burung ini merupakan jenis tumbler dari Perancis yang mampu terbang tinggi dan juga merupakan salah satu nenek moyang dari jenis Racing Homer. Burung ini berbadan sedang tetapi serasi, dengan dada bidang, sayapanya panjang dan kokoh, kaki agak pendek. Umumnya warna bulu putih, dan ada yang memiliki bintik-bintik merah di kepala atau leher.
4. Flight: Burung ini dikembangkan di Amerika dan merupakan ras tersendiri. Dari kelompok ini ditemukan burung yang dikenal dengan nama Domestic Flight. Burung ini mampu terbang tinggi, dengan ukuran badan sedang, paruh tampak memannjang dan kepala ramping berjambul, tetapi ada pula yang tidak. Matanya putih dengan lingkaran tengah dari mata (selaput mata) bagus. Dan inilah letak rahasia kemampuannya melihat jauh saat merpati terbang tinggi.
Selain itu ada juga burung yang diberi nama Show Flight. Burung ini mempunyai badan yang lebih gemuk dan kepala lebih besar daripada jenis Domestic Flight. Burung ini diternakkan karena kemampuannya terbang tinggi dan memiliki keindahan yang dapat dijadikan sarana untuk dipamerkan. Kedua macam burung ini diternakkan dengan warna hitam, kuning, merah dan abu-abu cokelat.


Jenis Umum Merpati
Demikian sejumlah jenis merpati yang popular saat ini. Namun jika kita menengok lebih jauh, maka merpati sebenarnya bisa dibedakan berdasar ukuran badan, bentuk badan, dan warna bulu.
Berdasar ukuran badan
1. Carrier: sering disebut English Carrier, berasal dari Bazora Persia. Awalnya adalah burung pembawa berita, tetapi kemudian kalah tenanr dibandingkan Racing Homer. English Carrier punya ciri bulu keras dan rapat ke badan, pial paruh berwarna putih, bisa membesar sebesar biji kemiri, dan baru berhenti setelah usia 3 tahun. Kelopak mata dikelilingi pial dalam bentuk lingkaran yang besar. Tinggi 45-48 cm, berat 500-650 gram. Warna hitam, merah, kuning, putih, dan ada yang berpita biru.
2. Carneau: Burung konsumsi dari Belgia Selatan atau Perancis Utara, berat 750 gram dan bisa mencapi 1 kg.
3. Strasser: Dikembankan di Austria sebagai burung konsumsi tetapi kalah popular disbanding Carneau. Strasser hamper menyerupai merpati Gazzi Modena. Kepala, leher, sayap dan ekor dapat memiliki berbagai warna dengan badan berwarna putih.
4. Mondaine: Keturunan merpati Perancis dan Italia sebagai burung konsumsi. Berpenampilan menarik tetapi untuk burung konsumsi kalah populer disbanding burung lain.
Berdasar bentuk badan:
1. Kipas (Fantail): Berasal dari India dan Cina. Tanda mencolok ekornya menyerupai kipas. Tetapi karena ekor panjang, kita harus sering memotongnya agar bisa kawin. Kelemahan burung ini, harus dicarikan indukan lain untuk mengasuh anak.
2. Jacobin: Diberi nama seperti itu karena bulu-bulu yang mengitari kepalanya menggambarkan topi yang dipakai pendeta-pendeta Jacobin. Burung diternakkan dengan warna putih, jitam, biru, perak, merah dan kuning.
3. Frillback: Burung yang istimewa tetapi kurang popular. Merpati ini berbulu ikal di bandan dan sayap, sehingga ditemukan adanya bulatan-bulatan kecil bagaikan bulu. Ada yang jambul ada yang tidak. Burung yang baik harus punya ikal yang kokoh. Warna ada yang hitam, putih, kebiruan, kemerahan, kekuningan. Yang kemerahan dan kekuningan dianggap sebagai bentuk yang baik.
4. Cropper: Bersanak dekat dengan pouter. Keduanya menjadi keluarga besar, dengan cirri-ciri hampir sama. Salah satu cropper yang terkenal adalah English Cropper. Tembolok besar, berdirinya tegak, badan dan pnggang langsing dengan kaki panjang. Termasuk merpati yang tinggi karena bisa setinggi 50 cm dari kepala sampai kaki. Pada tembolok merpati ini ada gambar bulan sabit dengan kedua ujung bertemu di dekat kedua matanya. Ujung sayap, bagaina bawah badan, kaki dan bulu-bulu putih di sayap menggambarkan bintik-bintik seperti bulu.
Jenis lain dari Cropper adalah Pouter yang mudah dijinakkan dan menyenangkan. Jenis lainnya adalah Holle Cropper yang berbentuk seperti merpati kipas, tetapi tidak berekor kipas. Jenis lain Cropper adalah Valencia Cropper yang bertembolok menggantung, mengembang seakan dibusungkan.
Berdasar warna bulu
1. Modena: Diambil dari nama kota tempat dia berasal. Terkenal sebagai merpati ternak yang baik. Yang terkenal dari jenis ini adalah Gazzi Modena dengan badan putih serta kepala, sayap dan ekor berwarna-warni. Termasuk merpati kecil dengan ukuran panjang 25 cm, tetapi padat gemuk (buntek) dan bergaya anggun.
2. Florentine: Berasal dari Florence, Italia. Berbentuk seperti ayam betina. Terkenal di Eropa sebagai burung pameran, tetapi bisa masuk sebagai burung konsumsi karena bisa mencapai berat 500-800 gram). Kepala, sayap dan ekor berwarna-warni dengan badan putih.
3. Lahore: Di Pakistan dan sekitarnya dikenal dengan nama Shiraz (kota tempat burung berasal). Leher, perut, dada dan ekor berwarna putih. Kepala, pinggang dan sayap bisa berwarna lain. Kaki bisa berbulu semua tetapi ada yang polos. Bisa dimasukkan sebagai merpati konsumsi karena badannya besar. Diternakkan dengan bulu beraneka warna.
4. Oriental Frill: Sangat menawan hati, berasal dari Turki, dengan jenis banyak sekali tetapi yang paling populer adalah Satinette yang mempunyai badan berwarna putih dengan garis-garis pada bahu, sayap, dan ekor warna hitam, biru dan abu-abu cokelat. Bagian sayap untuk terbang berwarna putih. merpati ini punya bulu balik di daerah dada. Karena pandai membesarkan anak, jenis ini sering digunakan untuk “orang tua asuh”.
Ada pula merpati dengan sebutan terkenal Owl yang dikenal di Indonesia dengan nama Meeuw. Kekhususannya adalah berparuh pendek, pial dan kepala membentuk bulatan. Ada berbagai jenis dari merpati ini. Berbeda dengan Oriental Frill, kepala Owl biasa saja tanpa jambul. merpati ini tidak pandai membesarkan anak.
Demikian sekilas tentang jenis-jenis merpati. (Dari Ari Soeseno, Memelihara dan Beternak Burungi Merpati, dan berbagai sumber lain).

Penyakit burung merpati dan penanganannya

Filed under: Kesehatan — masterjogjanews @ 5:22 pm
Tags: merpati balap, merpati tinggi, obat sakit burung, penyakit burung merpati
Burung merpati termasuk burung yang memiliki daya tahan tinggi terhadap penyakit. Namun hal itu jangan membuat kita terlena. Sebab, kita tidak perlu lagi khawatir jika kita memang sudah:
1. Menyediakan tempat teduh untuk merpati (pagupon/gupon-Jawa) yang kering, terang, ventilasi baik dan burung dapat pergi menghindari hembusan angin dari satu arah (graught).
2. Menyediakan tempat tinggal/berteduh yang tetap bersih.
3. Memberi makanan yang bermutu, bersih, bergisi seimbang.
4. Memberikan grit yang cukup dan seimbang mutunya.
5. Memberi air bersih yang terpisah dari air yang biasa untuk memandikan.
Penyakit umum merpati biasanya disebabkan oleh binatang kecil pengganggu yang menyebabkan burung terkena infeksi, atau juga virus atau bakteri atau infeksi yang disebabkannya.
Binatang pengganggu merpati umumnya adalah:
1. Kutu: Kutu merpati cukup besar untuk dilihat dengan mata telanjang. Berbeda dengan kutu burung kicauan, kutu pada merpati tidak menghisap darah tetapi hidup dengan memakan bulu dan sisik kulit merpati. Kehadirannya akan mengganggu jika cukup banyak (dan biasanya tidak kita sadari). Pada suhu udara panas, perkembangannya sangat cepat.
Untuk menjaga merpati bebas kutu seperti ini, gunakan saja FreshAves, obat anti parasit yang tidak berbahaya untuk merpati (tidak membuat keracunan).
Selain bisa digunakan untuk menyemprot burung, FreshAves juga perlu untuk membasmi semua parasit di lingkungan tempat tinggal merpati.
2. Tungau Merah: Tungau ini sama dengan tungau ayam. Berbeda dengan kutu, tungau ini sulit ditangani bila jumlahnya sudah banyak di badan burung. Burung ini hidup di celaj-celah kandang atau kotak sarang, dan keluar di malam hari hanya untuk mencari makan. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan penyemrpotan kandang dan lingkungan merpati dengan FreshAves, baik secara disemprotkan maupun dengan ditabur di dasar sarang.
3. Lalat merpati: Lalat yang pernah ditemukan di AS bagian selatan ini lebih kecil ketimbang lalat yang biasa berkeliaran di rumah-rumah. Bukan hanya pengganggu, lalat ini juga membawa bibit penyakit. Dia suka bersembunyi di di antara bulu-bulu burung. Telur dan larva lalat ini ditempatkan di tepi sarang dan umumnya dipilih sarang yang masih ada anakannya. Penanganan atas lalat ini bisa kita gunakan pula FreshAves untuk disemprotkan di lingkungan merpati dan ditaburkan di dasar sarang.
Penyakit lain:
1. Kanker: Penyakit ini disebabkan protozoa dan umum ditemukan di merpati. Kebanyakan menjangkiti anak burung yang masih dalam sarang, meski juga banyak menyerang merpati dewasa.
Gejalanya, terdapat luka di mulut atau leher yang diliputi cairan kental putih kekuningan. Luka akan membesar dan akan menyebabkan kematian merpati.
Ada beberapa cara penyembuhan yang tergolong efektif sperti disampaikan Arie Soeseno dalam Memelihara dan Beternak Burung Merpati, yakni dengan menyapu luka dengan larutan yang terdiri dari 3 bagian glycerin dan 1 bagian jodium/iodine. Meski penyakit ini dapat diobati, tetapi jika tidak begitu berharga maka sebaiknya burung yang terjangkit dimatikan saja agar isi kandang tidak terjangkit semua. Ada pihak yang menyebutkan penyakit ini tidake menjalan, namu kita tetap harus berhati-hati.
Pembersihan kandang dengan FreshAves sangat dianjurkan.
2. Kurus (merpati menjadi kurus): Burung kurus dan terlihat sakit. Umum ya disertai mencret. Kurus memang bukan penyakit tetapi menunjukkan adanya gejala penyakit. Bantuan bisa diberikan dengan mengosongkan tembolok kemudian diberi cairan susu hangat dan roti selama perawatan.
3. Mencret/Diare: Biasanya disebabkan makanan yang tidak baik/rusak. Penyakit akan hilang jika penyebabnya sudah diketahui dan dihilangkan. Cara penyembuhan terbaik dengan memberikan jagung dan butir biji-bijian kecil (jewawut, millet, dsb) sampai burung sembuh. Dapat juga burung diberi minyak kastroli atau garam epson sebagai sarana pencahan (urus-urus) untuk membersihkan sistem pencernaan.
4. Pilek: Penyebabnya sama dengan penyebab pilek pada manusia. Intinya, perlu menjaga burung agar berdaya tahan tinggi terhadap serangan penyakit. Salah satu cara yang disarankan adalah pemberian BirdVit pada minumannya. BirdVit yang mengandung multivitamin dan mineral ini bisa diberikan secara rutin setiap hari.
Jika burung pilek, jaga kehangatan tubuhnya. Minyak kastroli sebagai pencahar juga bisa diberikan untuk membersihkan pencernaan. Anda juga bisa menggunakan obat-obatan yang mengandung sulfa atau antibiotika yang ada di pasaran khusus untuk burung/unggas. Umumnya pilek akan hilang dengan sendirinya kalau burung diberi penghangat dan dihindarkan dari hembusan angin.
5. Pnemonia: kalau leher burung menjadi bengkak dan burung mengalami kesukaran bernafas, serta tampak demam dan sakit maka ada kemungkinan terserang penemonia. Usahakan burung agar hangat dan jauhkan dari angin. Pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian sulfa atau antibiotik.
6. Parathypus: Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan merupakan penyakit paling serius bagi merpati. Serangan bisa menyebabkan kematian dari 80% burung di kandang.
Gejalanya bisa berbeda-beda antar burung. Persendian (umumnya di sayap) dan kaki merupakan tempat-tempat yang mudah bengkak dan akan terisi oleh cairan. Merpati yang pincang atau lumpuh merupakan tanda adanya parathypus. Pada serangan hebat, kematian akan datang tanpa tanda pembengkaan. Boleh jadi pembengkaan pada sayap karena penggumpalan darah akibat cedera, tetapi jika pembengkaan terjadi pada beberapa burung sekaligus, pantas diduga mereka terkena serangan parathypus.
Pengobatan memang bisa dilakukan namun pengalaman menunjukkan bahwa membunuh burung-burung yangt sakit merupakan cara terbaik agar penyakit tidak berjangkit lagi atau terjadi penularan.
Penyakit ini menyebar dengan berbagai cara dan yang tercepat adalah melalui kotoran dan air minum. Lalat, burung-burung liar dan tikus merupakan binatang yang dapat menyebarkan penyakit ini. Jika terjadi serangan, selain saran terbaik untuk merpati dimusnahkan, maka bisa dilakukan pengobatan massal dengan antibiotik, sulfa (sulfamerazine, sulfamethazine).
7. Coccidiosis: Penyebab protozoa dan menyebabkan peradangan pada intestin (usus). Protozoa ini sebenarnya sudah tinggal di dalam tubuh burung, namun akan menyerang jika daya tahan tubuh burung melemah.
Burung yang terkena coccidiosis mengalami mencret hebat, cepat menjadi kurus, dan tampak pucat kekurangan darah. Sering ada gumpalan kotoran di pantat burung. Penularan penyakit ini adalah melalui burung lain yang makan protozoa coccidia yang tercampur pakan. Lakukan pencegahan dengan selalu menjaga kebersihan kandang dan lakukan penyemprotan dengan BirdFresh secara periodik merupakan langkah terbaik. Untuk pengobatan, Anda bisa mendapatkan obat untuk ini di pasaran.
8. Cacar: Cacar ini disebabkan oleh virus dan bisa membuat merpati cacat atau menemui kematian. Gejalanya tampak sebagai kulit yang mengembang dan muncul pada daerah yang tidak ditumbuhi bulu. Ada dua macam cacar yakni cacar leher dan cacar kulit. Cacar leher atau diphteria ditemukan hanya dileher dan memiliki angka kematian yang besar. Pada cacar kulit, kita akan melihat ada semacam petumbuhan kutil yang dapat begitu besar sehingga daerah mata atau kaki dipenuhi seluruhnya. cacar kulit jarang mematikan untuk burung dengan daya tahan tubuh kuat.
Virus cacar ini antara lain dibawa oleh nyamuk dan hanya dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka. Tidak ada pengobatan yang efektif untuk cacar ini, tetapi bisa dilakukan vaksinasi cacar deengan vaksin cacar manusia (penggunan perlu petunjuk dokter hewan).
Demikian uraian mengenai penyakit burung merpati. Dan kalau kita amati secara keseluruhan, maka penyakit burung merpati sangat ditentukan oleh kebersihan lingkungan dan daya tahan tubuh burung merpati itu sendiri. Sekali lagi sekadar menyarankan, gunakan FreshAves untuk pembasmian parasit dan BirdVit sebagai penyuplai makanan bervitamin dan bermineral tinggi.


 



                                                                             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar